Indonesia Produksi Kapal Perang

SURABAYA, KOMPAS - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro optimistis Indonesia bisa membangun sendiri kapal kelas korvet.

Optimisme itu dilontarkan Purnomo di sela-sela peresmian KRI Banjarmasin di Surabaya, Sabtu (28/11). Kapal itu dibangun PT PAL selama 17 bulan dengan biaya 15,8 juta dollar AS.

”Kapal ini membuktikan bahwa Indonesia bisa membuat kapal perang. Transfer teknologi dari luar terus diupayakan agar kemampuan meningkat dan suatu saat Indonesia akan membangun sendiri kapal kelas korvet,” katanya.

Pembuatan kapal perang merupakan prioritas dalam program pertahanan nasional. Program ini merupakan bagian dari upaya peremajaan dan peningkatan armada kapal perang Indonesia. TNI AL masih membutuhkan sedikitnya 151 kapal perang dari berbagai kelas dan jenis (Kompas, 28/11).

Purnomo menyadari, pembuatan kapal di dalam negeri akan menghadapi sejumlah risiko, seperti kekurangan biaya dan layanan purnajual yang belum memadai. Namun, risiko itu merupakan harga yang harus dibayar jika Indonesia ingin membangun industri pertahanan sendiri.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Iskandar menyatakan, KRI Banjarmasin merupakan kapal jenis landing platform deck (LPD). TNI AL memesan empat kapal LPD dari Dae Sun Shipbuilding, Korea Selatan, dengan fasilitas kredit ekspor. Dua kapal produksi Korsel, yakni KRI Makassar dan KRI Surabaya sudah diterima tahun 2008.

Adapun KRI Banjarmasin dibangun oleh PT PAL di Surabaya. ”Kapal keempat, KRI Banda Aceh, sedang dikerjakan PT PAL,” kata Iskandar.

Rancangan seluruh kapal dibuat oleh Dae Sun. Namun, pembuatan dua kapal terakhir dikerjakan di Indonesia. Bahkan, PT PAL memodifikasi kapal tersebut. Modifikasi antara lain menambah kecepatan kapal dari 15 knot menjadi 15,4 knot. Kapasitas angkut helikopter ditingkatkan dari dua unit menjadi lima unit heli Super Puma.

”Seluruh permukaan atas juga menggunakan teknologi siluman untuk mengurangi kemungkinan terlacak radar,” kata Iskandar.

KRI Banjarmasin yang dipimpin Letnan Kolonel Laut Eko Joko Wiyono akan bergabung dengan Komando Lintas Laut Militer. Kapal itu akan dipersenjatai satu unit meriam kaliber 57 milimeter dan dua meriam kaliber 40 milimeter.

Awak kapal berjumlah 126 orang dan bisa mengangkut pasukan 507 orang, 13 tank, 20 truk, dan dua sekoci pendarat.

Sistem persenjataan akan dikerjakan TNI AL. PT PAL hanya menyediakan lokasi penempatan senjata di kapal. (RAZ)

Sumber : Kompas - 29 November 2009