Sembilan BUMN Menjadi Pasien PPA

Tahun ini, PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) memiliki tugas yang cukup berat. Pasalnya, tak kurang dari sembilan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tercatat menjadi pasien lembaga ini.

Sembilan perusahaan yang tengah berdarah-darah tersebut adalah PT Kertas Leces, PT Survai Udara, PT Djakarta Lloyd, Perum PFN, PT Kertas Kraft Aceh, PT Balai Pustaka, PT Dirgantara Indonesia, PT Industri Sandang, dan PT Semen Kupang.

Saat mengikuti rapat dengar pendapat dengan DPR Komisi VI, Senin (15/2), Menteri BUMN, Mustafa Abubakar menyatakan, PPA akan melaksanakan restrukturisasi atas perusahaan-perusahaan itu. "Untuk BUMN yang rugi dan tidak memiliki prospek, opsi terakhir yang akan diambil Kementrian BUMN adalah likuidasi," ujar Mustafa.

Mustafa pun membeberkan penyakit-penyakit yang menyerang perusahaan-perusahaan BUMN itu. Misalnya saja, PTDI perlu memperbaiki neraca dan struktur keuangan agar bankable. "Dengan kondisi keuangan yang bagus, perseroan bisa menarik kredit dari perbankan untuk mendanai proyek," lanjut Mustafa.

Sementara itu, pabrik Kertas Leces hanya beroperasi 30% karena pasokan gas hanya tersedia 50% dari kebutuhan. Selain itu, pabrik kertas ini kesulitan likuiditas, kekurangan bahan baku, dan terbebani Sub Loan Agreement (SLA) dan Rekening Dana Investasi (RDI).

"Kami sedang melakukan konversi bahan bakar dan saat ini sedang melakukan lelang untuk pembangunan konversi gas ke batubara," beber Mustafa.

Adapun PT Djakarta Llyod tidak memiliki dana untuk perawatan kapal, tidak mampu merampungkan kewajiban kepada pihak ketiga dan terbebani pajak maupun RDI dan SLA.

Soal Balai Pustaka, Deputi bidang Agro Industri, Penerbitan, Kertas dan Percetakan, Kementrian BUMN, Agus Pakpahan bilang, perusahaan ini akan melakukan sinergi dengan BUMN lainnya. Balai Pustaka akan mendapatkan kontrak-kontrak baru dari BUMN Perkebunan dan BUMN Agro Industri lainnya.

Dengan kontrak baru itu, Agus mengharapkan, kinerja Balai Pustaka akan meningkat. "Kami belum tahu apakah akan disuntik atau tidak. Tunggu saja kajian PPA," tegasnya. Balai Pustaka rugi sejak tahun 2005. Kerugian paling besar di tahun 2006, yakni mencapai Rp 50,077 miliar.

Sumber : Kontan - 16 Februari 2010