Jumlah BUMN Merugi tahun Ini tinggal 10

 JAKARTA- Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menargetkan jumlah BUMN yang merugi tahun ini dapat berkurang 50% menjadi sepuluh BUMN.


"Jumlah BUMN yang merugi pada 2009 sebanyak 20 perusahaan. Tahun ini kami usahakan tinggal sepuluh BUMN yang merugi, itu pun yang kondisinya sangat parah," ujar Menteri BUMN Mustafa Abubakar dalam acara Pesta Rakyat Carrefour di Jakarta, Senin (31/5).

Mustafa mengatakan, ada beberapa strategi yang telah disiapkan Kementerian BUMN untuk mencapai target tersebut. Langkah pertama adalah membedah kinerja BUMN-BUMN yang merugi secara menyeluruh untuk bisa menentukan arah kebijakan manajerial yang dibutuhkan, termasuk potensi pasar dan skema bisnis yang dibutuhkan.

Salah satu BUMN yang kinerjanya tengah diperbaiki adalah Sarinah. Menurut Mustafa, Sarinah menjadi prioritas karena latar belakang sejarahnya, seperti Balai Pustaka. Menurutnya, untuk mengembalikan kinerja Sarinah, perlu adanya pembenahan dari manajemen agar bisa menarik turis asing. Pasalnya, selama ini Sarinah terkenal sebagai etalase produk Indonesia.

Namun, kini Sarinah harus menghadapi persaingan gerai produk Indonesia di berbagai wilayah Indonesia. "Karena banyaknya gerai produk Indonesia, akhirnya Sarinah hanya menjadi pelengkap," kata dia. Berdasarkan data Kementerian BUMN, jumlah BUMN yang merugi tahun lalu sebanyak 24 BUMN dengan nilai kerugian Rp 1,74 triliun. Kini, nilai kerugian BUMN diperkirakan bisa menyusut menjadi tinggal Rp 183 miliar. Kerugian tersebut diperoleh dari perusahaan pelat merah non-Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Sementara itu, BUMN rugi pada 2008 mencapai 23 BUMN, dengan nilai kerugian Rp 13,95 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari PLN senilai Rp 12,3 triliun dan non-PLN sekitar Rp 1,65 triliun. Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (I.MFEUI) mencatat, pada 2008, persentase dari jumlah kumulatif laba dan rugi bersih dari 30 BUMN terbesar mencapai 77,67% terhadap laba keseluruhan BUMN. Namun jika kerugian yang diderita PLN dan Pertamina tidak diperhitungkan, laba bersih dari 28 perusahaan BUMN mampu menyumbang 93.06% terhadap total perolehan laba keseluruhan BUMN.

Adapun, BUMN yang berada dalam pengelolaan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) adalah PT Merpati Nusantara Airlines (MNA). PT Dirgantara Indonesia, PT PAL, PT Survei Udara Penas, PT Djakarta Lloyd, PT Kertas Leces, PT kertas Kraft Aceh, PT Balai Pustaka. PT Industri Sandang, PT Industri Gelas, dan Perum PFN.

Akibat PSO


Dosen Ekonomi Universitas Indonesia Ignatius Heruwasto menjelaskan, persentase kerugian BUMN yang melaksanakan fungsi public service obligation (PSO) terhadap kerugian keseluruhan BUMN cukup signifikan. Ini disebabkan kondisi fenomena stuck in the middle pada BUMN PSO yang wajib mencetak laba, sekaligus melaksanakan misi sosial.

"Selain itu, belum ada panduan jelas dan baku tentang PSO di tingkat pelaksanaan, sehingga belum tepat sasaran dan subsidi pemerintah terus membengkak," tutur dia Oleh karena itu, agar BUMN bisa menjadi perusahaan berskala dunia, perlu didorong upaya restrukturisasi, rightsizing, regulasi, dan panduan jelas tentang pelaksanaan PSO hingga tingkat teknis. BUMN yang menjalan kan fungsi PSO juga perlu melakukan INiinsahbukuan antara kegiatan Manis dan penugasan PSO Selain itu, diperlukan komitmen pemerintah agar pembayaran PSO tepat waktu dan riset mendalam oleh pihak independen bersama stakeholderterkait, mengenai rightsizing BUMN. (cl26)

Sumber : Investor Daily - 2 Juni 2010