PPA Lelang Aset BUMN dan Eks BPPN Rp 34 T

PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) siap melelang aset BUMN dan eks Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) senilai Rp 33,85 triliun pada tahun ini. Aset tersebut terdiri atas properti PT Pertamina di PT Patrajasa senilai Rp 2-3 triliun, aset eks-BPPN di PT Bank Permata, PT Bank Panin, PT Jemblo Cable Company, dan PT Asia Natural Resources Rp 850 miliar, serta aset Grup Texmaco Rp 30 triliun.

Direktur Pengelolaan Aset PPA Andi Saddawero mengatakan, Pertamina menyerahkan penjualan aset anak perusahaannya, yang tidak sejalan dengan bisnis inti perseroan sejak 2009. Salah satu aset tersebut adalah aset properti perusahaan di PT Patrajasa yang bakal dilelang pada Oktober mendatang. Pelepasan aset ini setara dengan pelepasan 66,7% saham milik Pertamina di Patrajasa.

“Pelepasan saham Pertamina di Patrajasa sebesar 66,7% akan kami umumkan bulan depan,” kata Andi, di Jakarta, baru-baru ini.

Andi menjelaskan, aset Patrajasa yang bakal dijual antara lain Hotel Patra Bali, Cirebon, Semarang, serta Parapat. Hotel Patra yang selama ini dikelola Pertamina di bawah kendali Patrajasa ini merupakan hotel bintang dua hingga lima.

Aset lainnya yang akan dilepas adalah Gedung Patra yang berlokasi di Jalan Gatot Soebroto, Jakarta serta 132 kaveling rumah di Perumahan Patra Kuningan, Jakarta.

Selain itu, PPA juga sedang mencari pihak yang bersedia menyewa dua aset milik Pertamina di Pondok cabe, Jakarta Selatan, yaitu Lapangan Terbang Pondok Cabe dan Padang Golf Pendek Cabe. Lahan di Pondok Cabe tersebut merupakan bagian dari tujuh aset properti Pertamina yang dikelola PPA. Aset lainnya berlokasi di Kemanggisan, Tangerang, Jatibarang, Kramat Raya Jakarta, dan di Jalan Halimun Jakarta.

Selain aset milik Pertamina, PPA akan menjual aset eks BPPN senilai Rp 850 miliar pada tahun ini. Aset yang akan dilepas ini sebagian besar berupa saham di Bank Permata, Bank Panin, Jembo Cable Company, dan Asia Natural Resources.

Sementara itu, PPA siap melelang aset kredit dan saham Grup Texmaco. Ini dilakukan dengan cara melepas hak tagih Grup Texmaco sebesar Rp 30 triliun kepada dua anak usahanya, yakni PT Bina Prima Persada dan PT Polysindo Jaya Eka Perkasa.

“Proses pendaftaran peminat sudah dibuka. Pada 19 Oktober 2010, kami akan melakukan due diligence,” kata Andi.

Andi menuturkan, hak tagih pada Bina Prima Persada sebesar Rp 7,1 triliun dan US$ 374 juta, sedangkan pada Polysindo Jaya Eka Perkasa Rp 9 triliun dan US$ 1,7 miliar. Terkait core business kedua perusahaan tersebut, Bina Prima Persada bergerak di bidang produksi tekstil dan Polysindo Eka Perkasa di bidang industri alat-alat berat.

Sejak pendaftaran lelang dibuka pada 11 Agustus lalu, kata dia, ada lima perusahaan, baik asing maupun lokal, yang menyatakan berminat. “Kami berharap sebelum akhir tahun 2010 lelang sudah tuntas,” ujarnya.

Selain hak tagih di Bina Prima Persada, pemerintah menguasai 70% saham di perusahaan ini. “Secara konsep, dua-duanya kita jual (hak tagih dan hak saham),” tegas dia.

Meski begitu dia tidak merinci besaran aset recovery yang akan diperoleh dari hasil penjualan tersebut. “Kami harap bisa seluruhnya terjual. Aset ini sudah kami kelola atau merupakan asset eks kelolaan BPPN,” papar dia.

Dalam proses penilaian harga lelang, PPA menggunakan Kantor Jasa Penilai Publik (Appraisal) Kantos. Kemudian, hasil lelang akan diserahkan kepada Kementerian Keuangan.

Langkah Tepat
Dikonfirmasi terpisah, ekonom dari Indonesia Economic Inteligent (IEI) Sunarsip mengatakan, pelepasan asset di luar bisnis inti yang dilakukan Pertamina sudah tepat. Langkah ini dinilai dapat membantu perusahaan untuk memenuhi kebutuhan investasi.

“Saat ini, bisnis inti Pertamina, yakni di bidang hulu, jauh tertinggal dari perusahaan lain. Saya kira Pertamina butuh dana segar untuk mengembangkan produksi minyak yang baru sekitar 20-30% dari kebutuhan minyak nasional,” kata dia.

Selain itu, Sunarsip yakin kebijakan memangkas bisnis di luar inti, akan mempercepat langkah perusahaan untuk menjadi perusahaan perminyakan nomor satu di Indonesia. “Saat ini, produksi minyak Pertamina bukanlah yang terbesar, kalah dengan Chevron. Untuk itu, Pertamina harus berupaya keras memperbaiki kinerjanya,” kata dia.

Sumber : Investor Daily - 8 September 2010