Pertamina belum pasok bahan baku Polytama

Penghentian pasokan propilena oleh PT Pertamina (Persero) untuk PT Polytama Propindo kemungkinan kuat akan berlanjut hingga November menyusul masalah utang piutang kedua perusahaan yang belum tuntas.

Kuat dugaan lambannya penyelesaian tersebut disebabkan oleh keinginan BUMN itu untuk menyelesaikan utang piutang Polytama satu paket dengan PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI). Bahkan, Pertamina dikabarkan juga siap mengakuisisi Polytama yang memiliki afiliasi dengan TPPI tersebut.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Aromatik, Olefin & Plastik Indonesia (INAplas) Fajar A.D. Budiyono mengatakan pasokan polipropilena untuk pasar domestik dipastikan terus mengalami kekurangan hingga November.

Hal itu disebabkan oleh belum adanya kepastian Pertamina unutk kembali memasok propilena ke salah satu perusahaan petrokimia terbesar di Indonesia itu, terkait dengan masalah utang piutang senilai US$21,5 juta.

“PP kemungkinan agak shortage karena sampai sekarang belum ada pasokan. Kabarnya sampai November pun belum dipasok. Kelihatannya ada beberapa hal lain di luar masalah utang piutang itu karena kewajiban Polytama sebenarnya sudah oke semua. Mungkin ada pertimbangan tertentu,” katanya kemarin.

Fajar menduga pertimbangan tersebut kemungkinan juga terkait dengan masalah utang piutang antara Pertamina dan TPPI. Menurut dia, ada kecenderungan Pertamina menginginkan penyelesaian masalah Polytama tersebut dengan TPPI yang masih memiliki afiliasi.

“Malah ada informasi yang menyebutkan Polytama juga akan diakuisisi oleh Pertamina,” ungkapnya.

Pertamina sebelumnya telah menyeret TPPI ke arbitrase nasional karena perusahaan itu gagal bayar utang senilai US$600 juta. BUMN itu juga berencana untuk mengkonversi utang TPPI tersebut dengan kepemilikan saham di TPPI.

Polytama dan TPPI merupakan perusahaan yang saham mayoritasnya dikuasai oleh PT Tuban merupakan perusahaan yang saham mayoritasnya dikuasai oleh PT Tuban Petrochemical Industries (Tuban Petro), masing-masing 80% dan 59,5%. Sebanyak 24% saham Polytama dikuasai oleh Honggo Wendratmo melalui kepemilikan saham 30% PT Silakencana Tirta Lestari di Tuban Petro.

Hingga berita ini diturunkan Vice President Corporate Communications Pertamina M. Harun belum merespons layanan pesan singkat Bisnis terkait dengan langkah korporasi yang akan dilakukan perusahaan terhadap Polytama dan TPPI tersebut.

Impor melonjak

Akibat penghentian pasokan tersebut, kata Fajar, proyeksi lonjakan impor PP dan PE masing-masing 450.000 ton dan 280.000 ton pada tahun ini akan menjadi kenyataan. Dengan asumsi harga PP dan PE di level US$1.200 per ton, nilai impor bahan baku plastik itu diperkirakan mencapai US$876 juta.

“Sampai dengan pengiriman Oktober, impor PP sudah mencapai 350.000 ton, sementara PE 200.000 ton. Impornya sendiri hanya siap sampai pertengahan November seingga harus diperpanjang. Itu artinya impor akan meluber lagi,” katanya.

Indonesia saat ini mengimpor bahan baku plastik terutama dari Singapura, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Jepang dan Arab Saudi. Adapun impor barang jadi, yang banyak berasal dari pasar Asean dan China, hingga Agustus telah lebih dari US$1 miliar.

Padahal, kata Fajar, saat ini terjadi kontraksi pasar akibat kenaikan harga nafta di pasaran dunia menyusul terkonsentrasinya pasokan nafta ke Eropa, terutama Jerman dan Prancis. Untuk bisa menarik kembali nafta tersebut ke pasar Asia, China dan pasar di kawasan lainnya perlu menaikkan harga beli.

“Sehingga harga dipastikan akan baik lagi. Sekarang saja sudah di atas US$800 per ton. Harga propilena dan etilena sudah sekitar US$1.060 per ton, sedangkan harga PP di pasar internasional sudah US$1.350 per ton dan PE sekitar US$1.280 per ton,” ungkapnya.

Sumber : Bisnis Indonesia - 27 Oktober 2010