Restrukturisasi TPPI Masih Tertunda

Penandatanganan perjanjian restrukturisasi atau master closing agreement (MCA) PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) dengan PT Pertamina kembali tertunda hingga 26 Agustus 2011. Sejumlah hal, termasuk harga, belum bisa disepakati sehingga penandatanganan tertunda dari target awal 26 Juli 2011.

"Untuk sementara ditunda sampai 26 Agustus 2011," kata Gde Pradnyana, Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas BP Migas, di Jakarta, Senin (15/8).

Sesuai term sheet (lembar persyaratan) restrukturisasi TPPI yang diteken 26 Mei 2011, penandatanganan MCA TPPI dijadwalkan pada 26 Juli 2011. Namun, kemudian tertunda menjadi 15 Agustus 2011 dan terakhir ditunda lagi menjadi 26 Agustus 2011.

Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi PKB Agus Sulistiyono mengatakan penundaan kesekian kalinya tersebut menunjukkan bahwa TPPI memang tidak beriktikad baik menyelesaikan utang-utangnya. "Saya juga tidak yakin bisa selesai 26 Agustus ini," katanya.

Menurut dia, semestinya pemerintah bertindak lebih tegas menyelesaikan utang TPPI yang sudah berjalan sejak lebih dari 10 tahun tersebut.

Pertamina, lanjutnya, merupakan pihak yang paling dirugikan atas ketidakjelasan penyelesaian utang TPPI tersebut. "Ini tidak sehat buat Pertamina," ujarnya.

Agus juga mempertanyakan peran pemerintah yang tidak memperjuangkan restrukturisasi yang lebih menguntungkan bagi negara, termasuk Pertamina. Padahal, pemerintah menempatkan setidaknya dua wakilnya di TPPI.

Saat ini, Dirjen Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Hadiyanto menjabat Komisaris TPPI dan Staf Khusus Menko Perekonomian Amir Sambodo menjabat Direktur Utama PT Tuban Petrochemical Industries, induk perusahaan TPPI.

Harga
Lebih jauh, Gde Pradnyana menjelaskan persoalan harga yang belum disepakati dalam MCA tersebut menyangkut TPPI dan Pertamina. "Sementara, harga antara BP Migas dan TPPI sudah tidak ada masalah," katanya.

Menurut dia, BP Migas memasok kondensat Senipah ke TPPI dengan harga jual sesuai pasar dan pembayaran di muka. Proses restrukturisasi utang TPPI itu menyangkut transaksi penjualan elpiji dan mogas (bensin) dari TPPI ke Pertamina dan pembelian kondensat Senipah milik BP Migas oleh TPPI.

Dalam dokumen matriks restrukturisasi, TPPI diketahui menawarkan harga elpiji ke Pertamina dengan formula CP Aramco plus 150 dollar AS per ton. Pertamina menilai tawaran TPPI itu terlalu tinggi. BUMN migas tersebut mengajukan harga elpiji sesuai pembelian dari produsen lain selama ini, yakni CP Aramco, flat.

Harga elpiji yang diminta Pertamina itu juga sesuai dokumen penilaian Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) tertanggal 8 Juli 2011. Dalam perhitungan matriks mogas, TPPI diketahui menawarkan harga 4,05 dollar AS per barel lebih tinggi dibandingkan Pertamina.

Sumber : Koran Jakarta - 16 Agustus 2011