Dubai World dan pasar keuangan RI
There are no translations available.

Pada akhir minggu lalu stabilitas pasar keuangan dunia kembali menghadapi cobaan. Pernyataan Dubai World yang meminta penangguhan pembayaran (standstill) selama 6 bulan atas utangnya sekitar US$59 miliar telah mengejutkan para bankir dan investor.

Pengumuman yang tidak transparan dan diumumkan menjelang libur Iduladha, menambah panik pasar keuangan. Satu pelajaran bagi kita, jangan bikin penjelasan setengah-setengah, tidak transparan kepada investor pasar keuangan. Para investor tampaknya baru sadar bahwa Dubai jika tanpa dukungan Abu Dhabi yang kaya minyak, bukanlah negara bagian Uni Emirat Arab yang kuat.

Pemerintah Dubai dalam 10 tahun terakhir secara agresif membangun sektor properti dalam rangka menjadikan Dubai sebagai pusat keuangan dan turisme di negara teluk dan kawasan Timur Tengah. Utang pemerintah Dubai diperkirakan sudah mencapai US$80 miliar, artinya lebih besar daripada total PDB nya yang hanya US$75 miliar. Anggaran pemerintah Dubai hampir selalu defisit.

Investor dibuat terkejut bahwa Dubai sampai dengan 2011 mempunyai kewajiban pembayaran utang obligasi sekitar US$22 miliar yang belum tentu bisa diperpanjang berhubung krisis keuangan global. Jika utang tidak bisa diperpanjang dan arus kas tidak cukup untuk membayar, Dubai World harus menjual aset-asetnya.

Kemungkinan gagal bayarnya Dubai World dikhawatirkan akan menambah kerugian bagi perbankan global yang meminjamkan dananya kepada Dubai World dan anak usahanya.

Krisis keuangan Dubai World dikhawatirkan akan membuat resesi ekonomi berkepanjangan di wilayah Uni Emirat Arab sehingga akan meningkatkan kredit bermasalah bagi perbankan yang mempunyai eksposur besar di wilayah tersebut.

Dampak selanjutnya, perbankan internasional, yang sampai sekarang belum pulih dari krisis sub-prime credit, akan menjadi semakin berhati-hati menyalurkan kredit sehingga memperlambat proses pemulihan ekonomi dunia.

Reaksi pertama dari para investor pasar keuangan mendengar berita tentang gagal bayarnya Dubai World adalah menjual saham serta menjual minyak (karena resesi ekonomi bakal berkepanjangan), kemudian membeli surat utang pemerintah Amerika Serikat dan Eropa (karena dianggap sebagai instrumen investasi yang aman, safe haven).

Dalam situasi panik, yang dijual oleh para investor tidak hanya portofolio saham perusahaan yang ada di wilayah Uni Emirat Arab, tetapi juga portofolio saham di banyak negara lain, termasuk di Indonesia. Hal ini juga dilakukan mumpung harga saham di banyak negara berkembang sudah naik tinggi sejak awal tahun.

Saham perbankan adalah yang pertama kali dijual, terutama bank yang memiliki eksposur kredit di Uni Emirat Arab. Koran Financial Times mengutip analis Credit Suisse mengatakan bahwa perbankan Eropa memiliki eksposur kredit sekitar US$40 miliar atau setengah dari total utang pemerintah Dubai.

Minggu lalu harga saham bank RBS, Standard Chartered, HSBC, Barclays Bank jatuh sekitar 5%--10%. Bursa saham di Asia, Eropa dan Amerika turun 2%-5%. Premi proteksi risiko (credit default swap/CDS) negara emerging market ikut memburuk. Premi CDS Abu Dhabi memburuk 23 poin ke 163 bp. CDS Vietnam memburuk 35 poin ke 248 bp, Arab Saudi memburuk 18 poin ke 108bp, sedangkan premi CDS Indonesia memburuk 25 poin ke 225 bp.

Namun dilihat dari sisi pemburukan premi CDS yang 'moderat', tampaknya investor pasar keuangan tidak memandang kasus Dubai World sebagai krisis yang tidak terkendali.

Dampak ke Indonesia

Turunnya pasar saham di Indonesia pada Kamis lalu sebenarnya bukan hanya karena krisis Dubai World, tetapi juga karena tanpa diduga beberapa emiten Grup Bakrie melakukan rights issue, yaitu Energi Mega Persada dan Darma Henwa. Saham Grup Bakrie yang lain juga ikut jatuh karena investor memperkirakan bahwa rights issue mungkin akan terjadi di saham Grup Bakrie yang lain. Untuk itu keterbukaan informasi secepatnya diperlukan oleh para emiten.

Selain masalah Dubai World, keruhnya nuansa politik pada kasus Bank Century telah membuat bingung masyarakat sehingga ikut membawa mendung di Bursa Efek Indonesia. Harapan para investor adalah semoga para politikus di DPR bersedia menyelesaikan kasus Bank Century tanpa maksud politik tersembunyi, karena pertaruhannya adalah stabilitas ekonomi dan moneter di Indonesia.

Investasi asing di pasar surat utang negara (SUN) telah mencapai Rp100 triliun. Investasi investor asing di SBI mencapai Rp46 triliun yang mana investor asing di SBI ini bisa masuk dan keluar setiap saat, memporakporandakan kurs rupiah. Semakin cepat dan transparan kasus Bank Century diselesaikan, semakin baik bagi stabilitas pasar keuangan.

Pemilu sudah selesai sejak Juli, artinya sudah saatnya pemerintah dan wakil rakyat melangkah maju, berkonsentrasi membangun perekonomian Indonesia, menyediakan infrastruktur, energi, pangan, dan kesempatan kerja bagi masyarakat. Jangan sampai kita kehilangan momentum lagi.

Nanti setelah solusi atas Dubai World menjadi semakin jelas maka para investor akan bisa berpikir jernih untuk menentukan mana saham yang memang harus dijual, dan mana saham yang malahan harus dibeli kembali karena tidak terkena dampak negatif krisis Dubai World. Indonesia sebagai negara yang memiliki kebijakan makroekonomi yang berhati-hati tentunya masuk dalam kategori yang layak dipertahankan dalam portofolio saham dan portofolio obligasi para investor asing.

Di Indonesia, Departemen Keuangan selama ini selalu menjaga rasio defisit anggaran pemerintah tidak lebih dari 3% PDB. Rasio utang pemerintah Indonesia saat ini hanya 27% PDB, jauh lebih baik daripada rasio utang pemerintah Jepang yang hampir mendekati 200% PDB. Neraca pembayaran Indonesia tahun ini diperkirakan tetap surplus sekitar 1% PDB karena ekspor yang mulai pulih.

Pertumbuhan ekonomi diperkirakan bisa naik dari tahun ini sekitar 4,3% menjadi 5,3% hingga 5,5% pada 2010. Namun pertumbuhan ekonomi 5,5% itu belum cukup karena untuk menyerap tambahan tenaga kerja maka ekonomi Indonesia perlu tumbuh di atas 6,5% per tahun.

Cepat atau lambatnya solusi atas krisis Dubai World ditentukan oleh seberapa jauh komitmen Pemerintah Uni Emirat Arab sanggup dan mau menolong pemerintah Dubai. Negara bagian Dubai adalah salah satu dari tujuh negara bagian Federasi Uni Emirat Arab, yang mana Abu Dhabi adalah sebagai pemimpin negara federasi tersebut.

Jika Abu Dhabi yang kaya minyak serta memiliki aset keuangan senilai US$630 miliar mau mengambil alih masalah utang Dubai, maka krisis Dubai World akan cepat berlalu.

Oleh Mirza adityaswara
Chief Economist
Bank Mandiri Group

Sumber : Bisnis Indonesia - 30 November 2009