|
There are no translations available.
Biaya utang dan imbal hasil diharapkan turun. Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Rating, menaikkan risiko gagal bayar utang jangka panjang Indonesia dalam valuta asing maupun rupiah dari BB menjadi BB plus atau setingkat dari peringkat investasi. Lembaga ini juga menaikkan country ceiling Indonesia dari BB+ menjadi BBB- dan mempertahankan rating utang jangka pendek pada B.
Direktur Fitch Sovereign Rating Ai ling Ngiam dalam keterangan tertulisnya kemarin mengatakan, meningkatnya rating merefleksikan ketahanan Indonesia terhadap tekanan finansial global pada 2008-2009. Ketahanan ini didukung oleh berlanjutnya perbaikan keuangan negara, kekuatan peringkat fundamental negara, dan meredanya hambatan pada pembiayaan eksternal. "Peringkat uang Indonesia ini akan stabil," kata Ai Ling Ngiam kemarin.
Kenaikan peringkat ini diharapkan menurunkan biaya penarikan utang (cost o/ borrowing) atau imbal hasil (yield) surat utang yang dirilis Indonesia. Menurut Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto, pemerintah berusaha mengurangi beban utang dalam anggaran negara 2010 dan biaya utang bisa terkendali dalam jangka panjang.
"Kondisi ini diharapkan bisa menjadi benchmark baru di pasar domestik maupun internasional," kata Rahmat di Jakarta kemarin. Kenaikan peringkat ini juga bakal menjadi pendorong investasi karena country risk Indonesia berkurang.
Hingga 22 Januari 2010, pemerintah menetapkan lima seri surat utang sebagai benchmark penerbitan surat utang negara. Lima surat utang itu adalah seri FR0027, FR0031, FR0040, FR0052, dan FR0050.
Menurut Rahmat, tahun ini pemerintah berencana menarik utang baru, baik lewat penerbitan surat utang maupun pinjaman langsung senilai Rp 233,66 triliun untuk menutup kebutuhan pembiayaan 2010. Pembiayaan dirancang dari penerbitan surat utang secara bruto 2010 sebesar Rp 175,061 triliun, pinjaman program Rp 24,443 triliun, pinjaman proyek Rp 33,132 triliun, dan pembiayaan dalam negeri dari perbankan nasional Rp 1 triliun.
Rahmat mengatakan, dengan naiknya rating utang jangka panjang ini, Indonesia tinggal selangkah lagi mencapai peringkat investasi berkualitas. Peringkat yang naik ini merupakan keberhasilan pemerintah melewati krisis 2008-2009 dengan baik. Kenaikan rating juga dianggap sebagai pengakuan dunia terhadap kinerja otoritas fiskal dan moneter dalam mengelola anggaran negara, termasuk dalam pengelolaan utang dan stabilitas moneter. Meski demikian, kata dia, pemerintah tidak akan mengubah strategi pembiayaan.
Sumber : Koran Tempo - 26 Januari 2010 |