|
There are no translations available.
Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad tampak geram dengan macetnya revitalisasi tambak udang PT Aruna Wijaya Sakti (eks Dipaseca Citra Darmaja) oleh PT Central Proteinaprima (CP Prima) di Lampung.
CP Prima wajib merevitalisasi tambak eks Dipasena itu pasca mengakuisisi Dipasena melalui PT PPA, medio 2007 silam. Namun, karena tampak tersendat-sendat, Fadel memberi batas waktu kepada CP Prima selama tiga bulan, jika tidak dipenuhi maka akan mendesak CP Prima agar menjual ke investor lain.
Menurut Fadel, saat ini sudah ada beberapa investor yang melirik tambak udang CP Prima, satu dari dalam negeri, satu lagi dari Malaysia.
Fadel mengaku sudah bertemu dengan Menteri Keuangan dan sejumlah Menteri lain membahas rencana revitalisasi tambak udang itu. Dia juga mengklaim, bersama pejabat eselon I Kementrian Kelautan, sedah bertemu dengan manajemen CP Prima membahas kelanjutan revitalisasi. Dari pemaparan manajemen CP Prima, mereka bersedia menjual ke investor lain, kata Made L Nurjana, Dirjen Budidaya Kementrian Kelautan dan Perikanan.
Corporate Communication CP Prima, Fajar Reksoprodjo, mengaku belum mendengar rencana pemerintah itu, dan menegaskan selama ini proses revitalisasi tambak sudah berjalan menggunakan dana internal. Dan menurutnya, perlambatan revitalisasi memang terjadi karena ada pengurangan belanja modal.
Sejatinya, desakan Fadel itu seiring tekanan para petambak Aruna Wijaya. Kemarin (17/2), sejumlah petambak yang tergabung dalam Perhimpunan Petambak Palsma Udang Windu (P3UW) PT Aruna Wijaya berunjuk rasa, di sela-sela Rapat Koordinasi Menetrian Kelautan dan Perikanan, di Jakarta. Mereka akan menagih janji Fadel yang akan ikut desak CP Prima merevitalisasi tambak.
Sumber : Kontan - 18 Februari 2010 |