Merpati Untung, Tetapi Belum Bisa Bayar Utang
There are no translations available.

Kamis, 04 Maret 2010 | 10:05

JAKARTA. Menyehatkan sebuah perusahaan yang kondisi keuangannya telah berdarah-darah memang tidak mudah. Contohnya adalah apa yang terjadi di PT Nusantara Airlines (MNA).

Menurut Direktur Utama PT Perusahaan Pengelolaan Aset (PPA) Boyke Mukijat, dengan suntikan dana ratusan miliar rupiah, akhirnya, PPA berhasil menyembuhkan kondisi keuangan maskapai penerbangan pelat merah itu. Bahkan sejak tahun lalu, Merpati sudah berhasil membukukan keuntungan.

Toh, perusahaan ini belum bisa mulai mencicil utang-utangnya yang besar. Merpati sudah untung tetapi belum mampu membayar utang,” kata Boyke, di kantor PPA, Rabu kemarin (3/3).

Pada 2007, Merpati mendapat dana Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 450 miliar yang digunakan untuk revitalisasi armada Rp 150 miliar, restrukturisasi utang Rp 180 miliar, dan biaya sumber daya manusia Rp 120 miliar.

Nah, tahun lalu, PPA juga telah menyuntikkan dana sebesar Rp 300 kepada Merpati miliar. Suntikan itu digunakan untuk menutupi biaya operasional dan modal Merpati. Namun, Boyke mengaku, utang-utang Merpati belum ada yang terbayar.

Catatan saja, sebagian besar utang Merpati adalah utang kepada BUMN lain seperti Angkasa Pura I, Angkasa Pura II, dan PT Pertamina. “Nilai utang Merpati hampir sebesar Rp 2 triliun dan itu belum ada yang terbayar,” lanjut Boyke.

Hingga pertengahan 2007, Merpati memang memiliki utang Rp 1,8 triliun. Kini, mereka sedang dalam proses negosiasi dengan para krediturnya. Adapun total aset BUMN penerbangan itu tidak sampai Rp 1 triliun.

Boyke mengatakan, sejatinya, BUMN tersebut bisa saja meminta penghapusan utang atau mencicil utangnya dalam jangka waktu panjang supaya bisa hidup. Tapi, BUMN yang jadi kreditur Merpati tak bisa sembarangan menghapuskan utang. Boyke bilang, mereka perlu payung hukum agar tidak ada masalah.

Yang mengejutkan, Boyke bilang, suntikan dana untuk restrukturisasi sebesar Rp 300 miliar pada tahun lalu tersebut masih jauh dari kebutuhan. Maka, ia sedang mempertimbangkan untuk menambah suntikan dana kepada Merpati. Namun, ia belum bersedia mengungkapkan berapa besar suntikan itu. Ia hanya bilang bahwa jumlah tambahan suntikan dana itu bisa mencapai ratusan miliar rupiah.

Direktur Utama Merpati, Bambang Bhakti membenarkan bahwa sejak akhir tahun lalu, Merpati tidak lagi berdarah-darah. Pada tahun kemarin, Merpati berhasil memperoleh pendapatan Rp 2 triliun. "Tahun ini, kita targetkan pendapatan naik menjadi sebesar Rp 3 triliun," tambahnya.

Namun, Bambang mengaku masih menghitung nilai keuntungan yang telah dikantongi Merpati pada tahun lalu. Sebagai gambaran, di 2008, Merpati masih merugi sebesar Rp 200 miliar, lebih besar dari kerugian tahun 2007 yang mencapai Rp 101 miliar.

Fitri Nur Arifenie
Sumber : http://www.kontan.co.id/index.php/bisnis/news/31398/Merpati-Untung-Tetapi-Belum-Bisa-Bayar-Utang