|
There are no translations available.
Wednesday, 03 March 2010
JAKARTA (SI) – PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) berencana mendirikan anak usaha di bidang pembiayaan, PPA Finance. PPA telah menyerahkan formulir pembentukan perusahaan tersebut ke Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam- LK) dan anak usaha ini diharapkan mulai beroperasi semester I/2010.
“Untuk modal awalnya kita siapkan Rp100 miliar, tapi nanti kerja sama dengan pihak lain,”kata Direktur Utama PPA Boyke Mukijat di Jakarta kemarin. Menurut Boyke, alasan pembentukan PPA Finance karena selama ini banyak badan usaha milik negara (BUMN) yang kesulitan dalam pendanaan.PPA Finance akan menyalurkan pinjaman baik dalam bentuk belanja modal (capital expenditure/capex) maupun pengadaan barang dan jasa.
“Pertimbangan kami salah satunya adalah perusahaan BUMN yang sudah mulai sehat terkadang sulit memperoleh pendanaan. Mereka di tolak di mana-mana,kemudian datang ke PPA,”ujarnya. Dia mengungkapkan, saat ini PPA menerima proposal dari 18 BUMN yang membutuhkan bantuan, tapi kemungkinan hanya sebagian kecil yang bisa ditangani tahun ini. Tiga perusahaan yang efektif didampingi PPA adalah PT Waskita Karya,PT PAL,dan PT Merpati Airlines.
Tiga perusahaan lagi masuk dalam prioritas adalah PT Semen Kupang, PT Balai Pustaka, dan PT Iglas.Sementara itu,kajian awal PT Kertas Kraft Aceh (KKA) siap diajukan ke Komite Privatisasi. PPA memiliki sejumlah opsi untuk masing-masing perusahaan BUMN bermasalah misalnya Balai Pustaka diharapkan bisa dikelola selama dua tiga tahun ke depan untuk kemudian dijadikan Badan Layanan Umum (BLU).
“Pasti kita bantu jika memiliki cerita yang sustain,” tandas Boyke. Lebih lanjut Boyke menuturkan, banyaknya BUMN bermasalah yang harus ditangani otomatis membuat PPA butuh lebih banyak dana.Dari modal Rp2,5 triliun yang didapatkan periode 2008 dan 2009, saat ini baru digunakan sebanyak Rp1 triliun.
“Meski sisanya cukup banyak, tidak sebanding dengan ‘calon tanggungan’ PPA. Setidaknya PPA membutuhkan tambahan dana sekitar Rp1 triliun setiap tahun,” lontar Boyke. Per Desember 2008 aset PPA mencapai Rp5,06 triliun.Aset-aset tersebut berbentuk saham di tiga bank dan 26 perusahaan nonbank. (johana purba)
Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/308182/ |