|
Pemerintah Siapkan Tiga Opsi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengungkapkan adanya tiga opsi untuk mengoperasikan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) bila perusahaan itu 100 persen dikuasai Indonesia.
Tiga opsi tersebut, pertama. Inalum bakal dikelola sepenuhnya oleh PT Aneka Tambang (Antam). Kedua, Pemerintah membentuk BUMN baru bila sepenuhnya dibiayai dari APBN. Ketiga, membentuk perusahaan baru bila terdapat lebih dari satu BUMN yang ingin membeli saham Inalum.
"Bila pemerintah mengambil haknya, nanti dilihat pakai APBN atau menyuruh BUMN. Kalau pakai APBN, maka akan dibentuk BUMN baru atau kerja sama dengan BUMN lain. Tapi kalau pemerintah memberikan ke BUMN dan ada BUMN yang mau beli sendiri, maka menjadi hak dia. Tapi kalau ramai-ramai, akan menjadi perusahaan baru." ujar Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu.
Sebenarnya, kata Said, semua opsi tersebut masih terbuka. Setiap BUMN memiliki peluang yang sama untuk memperoleh saham Inalum. Asalkan mempunyai uang untuk membeli saham tersebut.
"Kita hindari jangan sampai swasta lah (yang beli saham Inalum), bagus kalau Pemda ikut. Tapi masak iya pemerintah kasih ke swasta, kan tidak mungkin, mau disorakin media," katanya.
Said mengatakan, masalah kontrak Inalum merupakan kontrak Pemerintah Indohesia dengan perusahaan Jepang, Nippon Asahan Alumina (NAA). Ini berbeda dengan kasus Newmont yang murni kontrak korporasi.
Selain itu, bila Inalum sepenuhnya menjadi milik Indonesia, maka pemerintah harus membayar utang-piutang yang ada di Inalum.
"Bukan harga (beli) di sini, tapi membersihkan utang-piutang. Bukan membeli, tapi mengambil dan membersihkan utang-utang yang ada," tegasnya lagi.
Menurut Said, Kementerian BUMN siap menentukan auditor independen bila nanti BUMN dilibatkan untuk membeli saham Inalum.
Sebelumnya, selain Antam, ada beberapa BUMN lain yang juga tertarik masuk ke proyek Inalum ini, yakni PT Danareksa Sekuritas. PT Banana Securities dan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA).
Selain itu, beberapa waktu lalu PT Bank Negara Indonesia Tbk berniat terlibat dalam pendanaan proyek Inalum yang disambut positif Menteri BUMN Mustafa Abubakar. Hal ini lantaran proyek Inalum memiliki prospek ke depan.
Selain itu, PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) memberikan sinyal positif untuk ikut mendanai akuisisi saham Inalum. Hal tersebut dapat dilakukan jika nantinya ditawarkan instrumen berupa obligasi atau surat utang agar Jamsostek bisa masuk.
Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga mengatakan, Jamsostek dapat masuk dengan cara membeli surat utang jika diterbitkan oleh perusahaan yang ditunjuk untuk mengakuisisi Inalum.
Sumber : Bataviase - 27 Juli 2010 |