BUMN yang Merugi, Siap-siap Dirutnya Diganti
JAKARTA- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, mengaku bakal mengganti Direktur Utama (dirut) BUMN jika tidak mampu mengelola perusahaan dengan baik. Dalam pesan singkatnya, ia mengaku jika suatu BUMN terus merugi, pemegang saham tidak akan segan-segan mengganti jajaran direksi agar perusahaan lebih baik ke depan.

“Ini berlaku semua,” katanya Selasa (15/5). Ia mengatakan dengan pergantian direksi pihaknya berharap bakal ada akselerasi dalam kinerja perusahaan, sehingga tidak terus menerus menelan rugi.

Sebagaimana diketahui, Dahlan mengganti Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airlines dari Sardjono Jhonny Tjitrokusumo ke Rudi Setyopurnomo, Senin (14/5). Pergantian ini terjadi akibat kerugian yang terus melanda perusahaan penerbangan tersebut, bahkan hingga mencapai Rp 2 miliar per hari.

Manajemen dinilai tidak mampu mempromosikan penerbangan dengan baik. Sejumlah penerbangan yang seharusnya mampu meningkatkan kinerja perusahaan justru tidak berkontribusi optimal.

Namun sayangnya, Dahlan enggan menuturkan apakah dalam waktu dekat kementrian tersebut juga bakal mengganti direksi BUMN lainnya, yang tercatat merugi di 2011 lalu. Yang pasti, ia berujar, Kementrian BUMN kini sedang memperbaiki kinerja BUMN agar mampu menghasilkan keuntungan untuk negara.

Di 2011 lalu Kementrian BUMN mengaku ada 22 BUMN yang merugi dengan nilai mencapai Rp 3,2 triliun. Selain Merpati Nusantara yang mencatat kerugian sebesar Rp 778 miliar, terdapat pula beberapa BUMN lain seperti PT PAL Indonesia dengan kerugian Rp 1,3 triliun dan PT industri Kapal (audited 2010) dengan kerugian Rp 805 miliar.

Ada juga PT industri Soda Indonesia (audited 2005) dengan kerugian Rp 22,437 miliar. Lalu PT Boma Bisma Indra dengan kerugian Rp 7,3 miliar dan PT Iglas dengan kerugian mencapai Rp 6,4 miliar. Terdapat juga PT Dirgantara Indonesia dengan kerugian Rp 356 miliar. Lalu ada pula PT Perkebunan Nusantara XIV dan XI dengan kerugian masing-masing dan Rp 113,384 miliar dan Rp 15,5 miliar.

Sumber: Republika, 16 Mei 2012