Aset Trans Pacific: Pertamina Memungkinkan Untuk Eksekusi

JAKARTA: Manajemen PT Pertamina (Persero) mengaku dimungkinkan pihaknya untuk melakukan eksekusi aset milik PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur.


Direktur Pengembangan Investasi dan Manajemen Resiko PT Pertamina (Persero) Afdal Bahaudin mengatakan  bahwa dimungkinkan Pertamina untuk mengeksekusi aset pabrik peterokimia  di Tuban itu, bila TPPI tidak mampu membayar utangnya sampai batas waktu yang ditentukan.

“Kalau kemungkinan eksekusi aset sih mungkin mungkin saja. Tapi nantinya juga tergantung pemerintah, tunggu sampai 16 Agustus 2012,” ujarnya di Jakarta Rabu (8/8/2012).

Meski begitu, dia masih optimistis TPPI mampu membayar utangnya “Saya masih optimistis mereka bisa bayar. Kan ada pinjaman dari Deutsche Bank”.

Sebelumnya, Pertamina menyatakan memberikan kesempatan terakhir kepada TPPI untuk membayar utangnya pada Pertamina 16 Agustus 2012.  BUMN itu   menunggu batas waktu tersebut untuk menindaklanjuti proses selanjutnya.

Menurut Direktur Keuangan PT Pertamina Andri T Hidayat, Dirut Pertamina Karen Agustiawan sudah sangat tegas memberikan kesempatan terakhir kepada TPPI.

“Kami tunggu 16 Agustus dulu, baru setelah itu lakukan proses selanjutnya, kami tidak ingin berandai-andai,” paparnya.

Komaidi Notonegoro, Wakil Direktur Reforminer Institute mengakui sudah kesekian kalinya TPPI mendapat perpanjangan tenggat waktu dari Pertamina. Menurutnya, masalah ini harus diselesaikan lantaran jika piutang Pertamina tidak segera tertagih maka akan berdampak negartif untuk arus kas perusahaan.

Pertamina telah memenangkan abritase terkait masalah ini. “Jika memang telah sesuai dengan prosedur, dilakukan saja langkah yang memang perlu diambil. Saya kira Pertamina telah memberikan waktu yang cukup dan bersedia negosiasi. Namun jika tidak ada itikad baik, prosedur hukum bisnis perlu ditempuh,” jelas Komaidi.

Eksekusi aset, menurutnya, bisa dijadikan pilihan terakhir yang harus dilakukan oleh Pertamina. "Jika pemerintah tidak segera memberikan solusi, maka pilihan eksekusi harus dilakukan."

Sumber: Bisnis Indonesia, 8 Agustus 2012