News and Highlights

News and Highlights

Beranda     /     Berita dan Highlight     /     Berita

Jakarta, 15 Juni 2021

RATING ACTION COMMENTARY Fitch untuk Pertama Kalinya Menetapkan Peringkat Perusahaan Pengelola Aset 'BB+' IDR; Peringkat Surat Utang 'BB+'

Fitch Ratings – Hong Kong – 4 Agustus 2021: Fitch Ratings telah menetapkan PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) (PPA) Issuer Default Rating (IDR) untuk Jangka Panjang Mata Uang Asing dan Lokal di ‘BB+’ dengan Outlook stabil.

Selain itu, Fitch juga menetapkan surat utang dolar AS yang rencananya akan diterbitkan PPA pada peringkat ‘BB+’. Surat utang tersebut dinilai sejalan dengan rencana penerbitan surat utang IDR Jangka Panjang PPA, karena surat utang tersebut merupakan kewajiban langsung, tidak subordinasi, tanpa jaminan perusahaan, dan memiliki peringkat yang sama (pari passu) dengan semua kewajiban tanpa jaminan dan tidak subordinasi PPA.

PPA adalah satu-satunya perusahaan yang dimiliki secara langsung oleh pemerintah Indonesia (BBB/Stabil) yang bergerak di bidang pengelolaan aset. PPA dikelola oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (KBUMN) yang menggunakannya untuk mengelola aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui surat kuasa khusus. PPA didirikan untuk melanjutkan pekerjaan Badan Penyehatan Perbankan Nasional, yang dibentuk setelah krisis keuangan Asia pada tahun 1998.

FAKTOR-FAKTOR PENGGERAK PERINGKAT
Status, Kepemilikan, dan Kontrol: Penilaian Fitch atas atribut didasarkan pada 100% kepemilikan negara dan penunjukan dewan komisaris dan direksi. PPA berada di bawah kendali yang kuat oleh KBUMN, yang tercermin dalam penugasan langsung pada restrukturisasi BUMN dan pemantauan perkembangannya. PPA didirikan sebagai perseroan terbatas yang tunduk pada prosedur kepailitan. Namun, Fitch percaya bahwa hal ini dapat dikurangi dengan kontrol dan pengawasan yang kuat oleh pemerintah, yang mendasari penilaian atribut ini.

PPA sedang dalam program transformasi sebagai bagian dari program KBUMN untuk mengelompokkan BUMN Indonesia ke dalam beberapa klaster berdasarkan industri. PPA akan dikelompokkan dalam klaster Danareksa-PPA. Penilaian atribut ini didasari pada harapan kami bahwa tidak akan ada perubahan material pada kerangka kontrol pemerintah yang ada.

Rekam Jejak Dukungan ‘Sangat Kuat’: PPA telah menerima dukungan dana melalui suntikan modal dari pemerintah sejak awal berdiri. Pemerintah memberikan suntikan modal sebesar Rp3,5 triliun sejak tahun 2008 hingga 2016 untuk mendanai restrukturisasi BUMN. Pemerintah juga mengalihkan kepemilikan minoritas di dua perusahaan terbuka (publik) dan tiga perusahaan non-publik dengan nilai wajar sebesar Rp2,95 triliun per April 2021, kepada PPA untuk memperkuat struktur permodalan.

Dampak Sosial-Politik dari Default ‘Moderat’: Perusahaan ini adalah salah satu dari dua alat pencegahan krisis pemerintah. Perusahaan lainnya adalah Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). PPA merupakan satu-satunya instansi pemerintah yang mengelola BUMN, pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Daerah yang bermasalah, dan mengelola kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) perbankan di Indonesia.

Fitch meyakini peran PPA dapat menjadi lebih penting bagi pemerintah dalam mengelola dampak pandemi Covid-19 terhadap BUMN dan NPL secara nasional. Peran kebijakan dan peraturan PPA menetapkan hambatan yang tinggi bagi pesaing untuk masuk ke sektor ini dan PPA juga tidak mudah tergantikan dalam jangka pendek hingga menengah. Namun, terbatasnya aktivitas perusahaan dalam pengelolaan NPL saat ini membatasi penilaian implikasi sosial-politik secara keseluruhan.

Implikasi Finansial dari Default ‘Moderat’: PPA adalah entitas terkait pemerintah (Government-Related Entities/GRE) penting yang bertugas menyelesaikan aset dan BUMN yang bermasalah. Sementara restrukturisasi atau resolusi bank berada di bawah lingkup LPS, PPA masih terintegrasi dengan perbankan negara dan sistem BUMN. Maka default oleh PPA dapat memiliki implikasi material bagi kredibilitas negara. Namun, perusahaan saat ini memiliki instrumen utang terbatas yang diterbitkan di pasar modal. Oleh karena itu, kami melihat bahwa default akan berdampak moderat pada ketersediaan dan biaya pembiayaan oleh pemerintah dan GRE lainnya.

‘b’ Profil Kredit Standalone (SCP): Kami menilai SCP PPA di ‘b’, berdasarkan ketahanan pendapatan ‘Menengah’, risiko operasional ‘Menengah’ dan profil keuangan ‘Lemah’, dengan rasio utang bersih/EBITDA sebesar 28,7x pada akhir tahun 2020.

Ketahanan Pendapatan ‘Menengah’: Penilaian mencerminkan diversifikasi investasi PPA dan persaingan yang terbatas dalam mengelola BUMN yang bermasalah, meskipun pengelolaan BUMN tersebut diarahkan oleh pemerintah. Bisnis baru perusahaan dalam pengelolaan NPL dan ”special-situations fund” dapat mensubsidi kegiatan dan memiliki basis pelanggan yang lebih luas. Penilaian atribut ini juga mencerminkan subsidi reguler dari pemerintah untuk membiayai restrukturisasi BUMN dan fleksibilitas untuk membebankan pengembalian investasi atas investasi yang menggunakan pendanaan dari pihak ketiga.

Risiko Operasi ‘Menengah’: Sebagian besar biaya PPA adalah biaya keuangan berbasis pasar. Pada akhir tahun 2020, sebagian besar pinjaman PPA adalah pinjaman bank dengan struktur revolving dan suku bunga mengambang, sementara 32% pinjaman adalah obligasi berstruktur tetap dengan suku bunga tetap. Oleh karena itu, PPA memerlukan pembiayaan kembali, dengan jatuh tempo terdekat pada tahun 2021 dan 2022 masing-masing sebesar Rp300 miliar dan Rp450 miliar. Risiko pembiayaan kembali dimitigasi oleh hubungan yang terjalin antara PPA dengan bank dan akses ke pasar modal. PPA saat ini memiliki pinjaman dolar AS terbatas, yang diinvestasikan pada aset dolar AS.

Risiko pengelolaan sumber daya PPA juga dinilai di ‘Menengah’. Pendanaan adalah sumber daya yang penting dan PPA memiliki hubungan perbankan yang kuat, terutama dengan bank-bank milik negara, serta catatan dukungan pemerintah melalui suntikan modal. Selain itu, PPA telah menunjukkan perencanaan permodalan dan pengelolaan likuiditas yang memadai.

RINGKASAN DERIVASI
Fitch telah mengklasifikasikan PPA sebagai GRE, yang mencerminkan kontrol dan kepemilikan entitas oleh pemerintah Indonesia, rekam jejak dukungan pemerintah serta dampak sosial-politik dan keuangan terhadap pemerintah dari default oleh PPA. Peringkat PPA berasal dari skor dukungan GRE sebesar 30, berdasarkan atribut di dalam Kriteria Peringkat Government-Related Entities Fitch, dan dikombinasikan dengan SCP ‘b’

SENSITIVITAS PERINGKAT
Faktor-faktor yang dapat, secara individu maupun kolektif, dapat mengarah pada tindakan pemeringkatan positif/kenaikan:

Setiap tindakan positif atau peningkatan peringkat sovereign Indonesia akan tercermin dalam peringkat internasional PPA dan peringkat surat utang dolar AS yang diusulkan.

Peningkatan insentif pemerintah untuk memberikan dukungan, serta implikasi sosial-politik dan keuangan dari default yang lebih kuat, dapat memicu tindakan pemeringkatan positif.

Peningkatan substansial pada profil kredit standalone PPA.

Faktor-faktor yang dapat, secara individu maupun kolektif, dapat mengarah pada tindakan pemeringkatan negatif/penurunan:

Setiap tindakan negatif atau penurunan peringkat sovereign Indonesia akan tercermin dalam peringkat internasional PPA dan peringkat surat utang dolar AS yang diusulkan.

Penurunan atau pengurangan pengaruh pemerintah langsung atau tidak langsung pada entitas dapat menyebabkan penurunan peringkat.

Melemahnya implikasi sosial-politik dan keuangan dari default, dapat memicu tindakan pemeringkatan negatif.

SKENARIO PEMERINGKATAN TERBAIK/TERBURUK
Peringkat Kredit Skala Internasional Keuangan Publik memiliki skenario kasus kenaikan peringkat terbaik (didefinisikan sebagai persentil ke-99 dari transisi peringkat, diukur dalam arah yang positif) yaitu tiga notch dalam kurun waktu tiga tahun; dan skenario kasus penurunan peringkat peringkat terburuk (didefinisikan sebagai persentil ke-99 dari transisi peringkat, diukur dalam arah negatif) yaitu tiga notch dalam kurun tiga tahun. Rentang peringkat kredit dari scenario kasus terbaik dan terburuk untuk semua kategori pemeringkatan berkisar dari ‘AAA’ hingga ‘D’. Peringkat kredit skenario kasus terbaik dan terburuk didasarkan pada kinerja historis. Untuk informasi lebih lanjut tentang metodologi yang digunakan untuk menentukan peringkat kredit skenario kasus terbaik dan terburuk untuk sektor tertentu: https://www.fitchratings.com/site/re/10111579.

REFERENSI UNTUK SUMBER MATERI SUBSTANSIAL DIKUTIP SEBAGAI FAKTOR-FAKTOR PENGGERAK PERINGKAT
Sumber informasi utama yang digunakan dalam analisis ini dijelaskan dalam kriteria yang relevan pada laporan ini.

PERINGKAT-PERINGKAT PUBLIK DENGAN KETERKAITAN KREDIT KEPADA PERINGKAT-PERINGKAT LAIN
Peringkat PPA adalah kredit yang terkait dengan peringkat negara Indonesia.

PERTIMBANGAN-PERTIMBANGAN LINGKUNGAN, SOSIAL, DAN TATA KELOLA (ESG)
Kecuali jika diungkapkan lain dalam bagian ini, tingkat relevansi kredit ESG tertinggi adalah skor ‘3’. Masalah ESG bersifat netral terhadap kredit atau hanya berdampak minimal terhadap entitas, baik karena sifat perusahaan atau cara mereka dikelola oleh entitas. Untuk informasi lebih lanjut tentang Skor Relevansi ESG Fitch: www.fitchratings.com/esg

RATING ACTIONS